Rabu, 03 April 2013

resensi buku biografi Steve Jobs


BIOGRAFI STEVE JOBS
 Buku biografi Steve Jobs ini merupakan salah satu buku terlaris di tahun 2011 (menurut sumber berita yang pernah saya baca beberapa hari lalu). Buku yang ditulis oleh Walter Isacsson ini mengundang banyak peminat dan pecinta teknologi informasi. Terutama bagi para pecinta produk dan gadget buatan Apple yang fenomenal. Kepergian Steve Jobs pada tanggal 5 Oktober tahun 2011 lalu tentu banyak meninggalkan jejak yang fenomenal atas ide-idenya, sehingga perlu dituangkan dalam sebuah biografi. Bahkan buku ini telah dicetak dalam berbagai macam bahasa. Penulis buku ini merupakan seorang wartawan yang dipercayakan Jobs untuk menulis tentang kehidupannya. Sumber-sumber yang diperoleh berasal dari Jobs sendiri, keluarga, serta teman-teman dekat Jobs, bahkan musuh/pesaingnya.
Steve Jobs adalah sosok jenius dan temperamen dalam hal inovasi teknologi. Berbagai macam produk hasil ide dan pemikirannya menghasilkan budaya yang berkembang di masyarakat digital. Beberapa perusahaan yang dikelolanya dengan sukses yaitu Apple, Next, dan Pixar. Sejarah dan kisah-kisah pendirian perusahaan tersebut dijelaskan secara gamblang dalam buku ini. Bagaimana Jobs menghadapi masa-masa yang sulit, hingga ia pernah dikeluarkan dari perusahannya sendiri, Apple, kemudian pada akhirnya masuk kembali berkat kehebatannya.
Perpaduan dalam diri Jobs, antara keahlian di bidang teknologi, seni, dan sifat keras kepala ketika memperjuangkan keyakinan inilah yang membuat setiap orang berdecak kagum terhadap produk Apple. Ia tidak saja menjual teknologi canggih, namun juga menjual keindahan dalam satu kesatuan utuh dan tak terpisahkan. Hal ini juga yang menjadikan produk Apple sebagai standar bagi produsen lainnya dalam menciptakan teknologi serupa. Apple dan Jobs tidak sekedar mengubah kecenderungan teknologi, tetapi juga mengubah nilai dalam peradaban kita. Dan, ya, orang-orang hebat selalu lahir dari kemampuan melaraskan langkah otak kiri dan otak kanan, meski mereka tak selalu menjadi pemenang.
Cerita masa kecil Jobs yang beralur semakin menjelaskan kharisma Jobs sebagai manusia yang tumbuh di antara pengalaman-pengalamannya yang membentuk karakter Jobs sendiri. Ia dikenal sebagai seorang yang keras kepala kepada semua orang yang menurutnya tidak melakukan sesuatu dengan baik dan sempurna. Akan tetapi, semua itu ditujukan atas obsesinya untuk menciptakan segala sesuatu dengan sempurna dan inovatif. Jobs juga penyuka seni, ia banyak mengamati desain sebuah produk yang mudah dalam penggunaan, tidak hanya berfokus pada fungsional. Komputer Mac, iPhone, iPad, Mac OS merupakan beberapa brand Apple yang sukses di pasaran.
Kisah cinta Jobs dengan beberapa mantan kekasihnya dianggap sebagai sisi romantis seorang Jobs. Ia sempat berpacaran dengan Chrisann Brennan (teman SMA), Jennifer Egan (mahasiswi University Pennsylvania yang bekerja di sebuah tabloid mingguan San Fransisco),Tina Redse (karyawan Apple Foundation), Joan Baez (penyanyi & penulis lagu perlawanan Amerika terkenal), dan Laurene Powell (sekarang istrinya). Banyak hubungannya yang putus nyambung karena beda prinsip.
Jobs bukanlah seorang yang bisa melakukan segalanya, tapi ia piawai untuk mengarahkan karyawannya dalam bekerja. Banyak ide yang justru terlahir dari anak buah/karyawan/teman dekatnya di perusahaan, tapi Jobs bisa menjelaskan ide tersebut kepada orang lain seolah olah ialah yang punya ide tersebut. Jobs juga bukan orang yang mudah dipengaruhi. Jobs selalu ingin berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang sudah ada ketika itu. Seperti kita ketahui Palo Alto, tempat bermukim & perusahaan Jobs berdiri, sampai sekarang dikenal sebagai gudang teknologi. Banyak perusahaan di bidang komputer, elektronik, semikonduktor, dan internet dalam skala besar berlokasi di daerah tersebut.
Jobs tidak bekerja sendiri, ia kadang memilih orang-orang yang dipercayainya bisa melakukan sesuatu dengan tuntas. Misalnya ia dibantu oleh Stephen Wozniak yang kuper untuk melakukan coding aplikasi yang sedang dikembangkan Apple. Juga John Sculley, seorang eksekutif minuman ringan Pepsi, yang akhirnya dinobatkan sebagai CEO Apple untuk membantu di bidang pemasaran produk.
Rivalitas Jobs dengan Bill Gates sangat menarik untuk disimak. Pertarungan keduanya melahirkan persaingan yang terus mengepul hingga sekarang. Mac vs Microsoft. Dalam buku ini juga banyak diceritakan tentang pentingnya sebuah iklan produk yang fantastis bisa mempengaruhi semua penonton. Juga gaya presentasi Jobs yang selalu bisa membuat pendengarnya melakukan standing ovation di setiap acara perilisan produk baru Apple.
Buku ini dalam versi Bahasa Indonesia mempunyai lebih dari 700 halaman. Meskipun demikian, banyak pembaca buku ini yang mereferensi bahwa membaca buku ini tidak akan membuat bosan. Banyak hal-hal menarik yang bisa ditemukan, meskipun bahasa yang dituliskan kadang sedikit kaku, karena murni hasil terjemahan aslinya dalam Bahasa Inggris. Bagi saya buku ini adalah seorang buku biografi untuk seorang yang selalu ingin berpikir inovatif, bagaimana cara mengelola sebuah usaha kreatif di bidang teknologi informasi dan multimedia di masa sekarang. Totalitas dan konsistensi selalu jadi kunci utama yang diperlukan untuk membangun kehebatan kreativitas.
Fakta-Fakta Steve Jobs
  • Ayah Kandung : Abdulfattah "John" Jandali
  • Ibu Kandung : Joanne Schieble Jandali Simpson
  • Ayah Angkat : Paul Reinhold Jobs
  • Ibu Angkat : Clara
  • Saudara Angkat : Patty Jobs (hasil adopsi lain Paul Jobs & Clara)
  • Adik Kandung : Mona Simpson
  • Istri : Laurene Powell
  • Anak Kandung : Lisa Brennan (dari Chrisann Brennan), Reed Jobs (anak pertama dgn Laurene), Erin Jobs (anak kedua dgn Laurene), Eve Jobs (anak ketiga dgn Laurene)
  • Perusahaan yang Pernah Dipimpin : Apple, NeXT, Pixar
  • Musik Favorit : Bob Dylan, The Beatles, The Rolling Stones


Buku ini hanya memerlukan satu kata saja – inspiratif – untuk menunjukkan bahwa ia sangat layak untuk dibaca oleh siapapun. Steve Jobs dikenal dengan presentasi – presentasinya yang memukau dan kata – katanya yang “bersayap”.  Namun buku ini menguak lebih dalam lagi sisi kehidupan Steve Jobs yang mungkin belum anda ketahui.
Terus terang saja saya lebih mengenal Bill Gates daripada Steve Jobs sebagaimana lebih banyak orang yang menggunakan Windows daripada Macintosh. Saya tidak terlalu akrab dengan Mac. Karenanya tentu saja saya tidak begitu peduli dengan Steve Jobs. Bahkan ketika membaca sebuah artikel yang berisi berita bahwa Jobs didiagnosa menderita kanker pun saya tidak begitu peduli. Reaksi saya sangat jauh berbeda dengan ketika saya mendapati sebuah artikel yang berisi cemoohan terhadap Bill Gates. Orang yang mencemooh Bill Gates adalah orang bar – bar, begitu pikir saya saat itu (pemikiran yang terus saya pertahankan hingga akhirnya saya mengenal Richard Stallman beserta ide – idenya). Namun Jobs adalah orang besar dibalik Apple Computer. Karena itu, saya harus mengenalnya lebih dalam. Steve Jobs adalah seorang yang sangat perfeksionis. Dan Walter Isaacson, penulis buku ini, adalah seorang penulis biografi yang dipilih Jobs untuk menuliskan riwayat hidupnya. Kesimpulan saya, buku ini pasti dapat memuaskan keingintahuan saya terhadap kehidupan Steve Jobs. Dan saya benar. Ibu biologis Steve Jobs, Joanne Schieble, hamil di luar nikah dengan seorang asisten pengajar muslim dari Suriah, Abdulfattah Jandali. Hubungan Joanne dengan Jandali tentu tidak direstui. Karenanya, ketika Jobs lahir, ia diserahkan untuk diadopsi. Sedianya Jobs akan diadopsi oleh pasangan pengacara karena Joanne menginginkan agar Jobs diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi. Namun pasangan pangacara itu membatalkan niatnya karena mereka menginginkan seorang anak perempuan. Jobs akhirnya diadopsi oleh seorang yang bahkan tidak lulus sekolah menengah, Paul Jobs, seorang yang memiliki minat besar di bidang permesinan. Awalnya Joanne tidak mau menandatangani surat adopsi. Namun setelah Paul Jobs berjanji bahwa ia akan menyekolahkan Jobs sampai ke perguruan tinggi, barulah Joanne setuju. Akan tetapi, orang tua yang menyerahkan dirinya untuk diadopsi tak pelak melukai jiwanya. Seorang teman dekat Jobs, Del Yocam mengatakan: “Menurutku, keinginannya untuk mengendalikan apa pun yang dia ciptakan, berasal langsung dari kepribadiannya dan fakta bahwa dia telah ditinggalkan ketika lahir.” (hal. 6).
Coba anda perhatikan kalimat Del Yocam berikut: ....keinginannya untuk mengendalikan apa pun yang dia ciptakan...... Apa maksudnya? Komputer Apple paling terkemuka sepanjang masa, Macintosh, sebenarnya dinamai demikian oleh Jef Raskin. McIntosh adalah jenis apel kesukaan Raskin. Ejaannya diubah menjadi Macintosh agar tidak menyamai nama pembuat peralatan audio, McIntosh Laboratory. Namun Raskin berbeda pandangan dengan Jobs soal performa Macintosh. Raskin hanya ingin sebuah komputer dengan harga $1.000. Dengan harga serendah itu, sudah bisa dipastikan bahwa performa komputer itu biasa – biasa saja. Berbeda dengan Raskin, Jobs menginginkan sebuah komputer yang hebat. Ia tidak mempedulikan berapa harga yang akan dibandrol. Menurutnya, komputer hebat layak untuk dihargai dengan harga yang tinggi. Raskin pun dipecat.
Bisa jadi masa lalu Jobs juga sangat berpengaruh pada kepribadiannya yang kasar bahkan kejam. Jobs mengelompokkan orang yang bekerja di sekelilingnya dengan orang – orang yang “mendapatkan pencerahan” dan orang – orang yang “tidak baik”. Hasil karya mereka juga dinilai sebagai karya yang “terbaik” atau “sampah”. Ia seringkali meneriaki ide orang yang bekerja padanya sebagai sampah. Namun jika beberapa hari kemudian ia menyetujui ide itu, ia akan membicarakannya kepada setiap orang sehingga seolah – olah ide itu berasal dari dirinya. Meskipun Jobs sering mencela, ia sangat menghormati orang yang memiliki keyakinan terhadap idenya. Jika Jobs mencela salah seorang insinyurnya dan sang insinyur membantah dengan mengatakan bahwa ia sedang melakukan yang terbaik, Jobs seringkali bisa menerima ide itu. Jobs pernah melihat kerja Bill Atkinson dan mencelanya sebagai sampah. Atkinson membantahnya dan menjelaskan mengapa yang ia kerjakan merupakan sesuatu yang terbaik. Jobs pun menyerah.
Berdasarkan pengalamannya, Atkinson mengajari rekan – rekannya agar menerjemahkan celaan “sampah” Jobs dengan: “katakan kepadaku mengapa itu adalah cara terbaik untuk melakukannya”. (hal. 157). Banyak orang yang tidak menyukai gaya kepemimpinan Jobs. Tetapi, orang – orang terdekat Steve Jobs adalah orang – orang yang memiliki kepribadian kuat. Bukan para penjilat.
Buku ini memang biografi Steve Jobs. Namun sebenarnya saya menginginkan agar Steve Wozniak mendapatkan porsi yang banyak mengingat ia adalah salah seorang di balik kesuksesan Jobs. Ia lah yang menciptakan Apple yang pertama. Dan ia jugalah satu – satunya orang yang tidak pernah dicela atau diperlakukan kasar oleh Jobs. Mungkin perlu buku setebal buku Jobs ini untuk menuliskan riwayat hidup Steve Wozniak. Mengulang tulisan saya di awal, saya sangat menyarankan anda membaca buku ini. Ada banyak hal dari Steve Jobs dan Apple Computer yang perlu kita ketahui. Jobs mungkin orang yang sangat serius dan kaku. Namun siapa sangka jika di masa mudanya, bersama Wozniak, ia seringkali melakukan kenakalan dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang elektronika? Apa hubungan logo Apple (apel tergigit) dengan Alan Turing, penemu komputer pertama yang mati bunuh diri dengan menggigit apel berlapis sianida? Apa yang dimaksud dengan distorsi realitas lapangan? Dan tahukah anda bahwa Jef Raskin, yang memberi nama Macintosh dan Steve Jobs (dua orang seteru) sama – sama meninggal karena kanker? Bacalah dan selamat datang di kehidupan Jobs yang warna – warni.

 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Resensi Film The Company Men


Bobby Walker adalah salah satu korban PHK  di sebuah perusahaan ternama di U.S, Sang istri yang mengetahui situasi suaminya cukup tegar menghadapi. Lain halnya dengan Bobby yang tidak begitu menerima keadaan. Secara dia dulunya seorang yang memiliki jabatan cukup tinggi perusahaan dengan gaji per tahun sekitar $120000, dia juga mampu membeli 1 buah mobil porche. Dengan sifatnya yang gengsi dan maunya dilihat berkelas, dia pun mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan dengan gaji yang tidak jauh dari pekerjaan dia sebelumnya. Anak lelaki tertua Bobby begitu prihatin dengan di PHKnya sang ayah. Dia merasa tertekan takutnya ayahnya tidak dapat membiayai kehidupan dia, adik serta ibunya setelah ayah di PHK. Kehidupan dia setelah di PHK, tetap seperti biasanya. Namun semuanya itu tidak berlangsung lama, karena kondisi perekonomian keluarganya semakin sulit. Bobby pun akhirnya sedikit demi sedikit merubah sikapnya yang egois, keras kepala, dan gengsinya tersebut. Satu per satu dia harus kehilangan barang dan kegiatan kesayangannya untuk menutupi hutang demi hutang yang terus menumpuk. Dia pun akhirnya, mencoba melamar pekerjaan di suatu perusahaan dengan gaji ala kadarnya. Adanya 4 aktor yang telah berpengalaman mengecap nominasi dari penghargaan Academy Award, yaitu Chris Cooper, Ben Affleck, Kevin Costner, dan Tommy Lee Jones. Kemampuan akting mereka disini bisa dikatakan sesuai dengan karakternya. Akan tetapi, Ben Affleck yang kaya raya dengan setelah dia diPHK sepertinya pemilihan peran yang frustasi/stress diPHK terhadap dia disini tidak cukup berhasil.
Dalam suatu kehidupan pasti seseorang ada kalanya jatuh. Namun semua itu tergantung dari orangnya apakah mau tetap jatuh atau kembali bangkit dari nol kembali.Menurut saya konflik-konflik yang terdapat di film ini sepertinya bisa jadi pencerminan kepada penonton. Pesan-pesan yang ditampilkan film ini juga cukup banyak, salah satunya kita harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan walaupun harus dari nol lagi. Menurut saya Boby mereka kurang bisa mengatur perekonomian keluarganya. Dengan gaji Bobby yang $120000/tahun itu sebenarnya sudah bisa membeli porche dan membuat suatu investasi atau semacam asuransi kehidupan jika nantinya ada masalah. Memang dia mencari pekerjaan disana-sini tapi alangkah lebih baik dengan investasi mereka bisa membuat suatu usaha sendiri yang dari nol. Kemudian yang bisa kita jadikan pelajaran dari film ini menurut saya disaat kita terjatuh bukan berarti terjatuh selamanya, orang disekitarnya bisa dijadikan sebagai motivasi semisal dalam film ini Boby mempunyai tekat bahwa sebuah keluarga adalah tekad yang mendasar harus dipenuhi kebutuhannya sesuai teori Hirarki Kebutuhan.